Lima Kesalahan Tersering Penyebab Cedera Olahraga

Lima Kesalahan Tersering Penyebab Cedera Olahraga

Olahraga merupakan aktivitas yang tidak sepenuhnya bebas risiko. Fisioterapis Alex Clark menyebutkan, sekitar 13 persen orang yang berolahraga mengalami cedera berkaitan dengan latihan yang dilakukannya.

Itulah sebabnya kita kerap dianjurkan untuk tak memaksa diri terlalu keras saat berolahraga, misalnya saat melakukannya di gym.

Beberapa risiko cedera bisa dihindari. Alex memberikan sejumlah saran agar kita bisa meminimalisasi cedera akibat melakukan latihan olahraga yang salah.

Lalu, seperti apakah olahraga yang salah?

1. Melakukan rutinitas berulang (repitisi) terlalu berlebihan

Ketika kita menemukan jenis olahraga yang disukai, seringkali kita tergoda untuk fokus pada jenis olahraga tersebut dan mengabaikan latihan yang lain.

Dengan melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang setiap berolahraga, kita hanya mengikutsertakan otot dan sendi yang sama. Hal ini berisiko menimbulkan cedera berulang dan membuat olahraga kurang efektif.

“Mengganti jenis olahraga pada setiap kesempatan akan memberikan kesempatan pemulihan dan istirahat bagi otot dan sendi yang sering digunakan. Sehingga pembentukan cedera bisa terhindarkan,” kata Alex.

2. Berolahraga dengan cara yang salah

Melakukan olahraga dengan cara atau teknik yang salah merupakan kesalahan umum yang banyak dilakukan dan berpotensi menimbulkan cedera.

Alex menyarankan agar kita selalu memastikan cara olahraga yang dilakukan sudah tepat sebelum melangkah ke tahapan latihan berikutnya.

Dalam konteks olahraga beban, jika kita harus berusaha keras untuk berolahraga sesuai dengan cara yang tepat, maka berarti kita harus mengangkat beban yang lebih ringan.

Ia memahami jika melakukan olahraga dengan cara yang tepat cukup sulit dilakukan, apalagi ketika kita berada di kelas gym yang besar atau hanya mengikuti apa yang kita lihat di media sosial.

“Akan lebih baik jika kita meminta bantuan personal trainer untuk mendapatkan saran yang tepat dan sesuai,” ujar Alex seperti dikutip dari situs joe.ie.

Latihan beban

 

3. Salah dalam melakukan pemanasan

Pemanasan adalah hal penting dalam semua jenis olahraga. Namun, masih banyak orang yang belum melakukannya secara tepat.

Misalnya, ketika peregangan banyak yang lebih fokus pada peregangan staris. Jenis pemanasan ini, dimana kita akan meregangkan satu bagian tubuh dan menahannya pada posisi tertentu, berpotensi mengurangi performa saat berolahraga dan bisa beresiko cedera.

Ketimbang peregangan dinamis, Alex menyarankan untuk melakukan aktivitas yang fokus pada bagian tubuh yang akan digunakan secara intensif.

“Hal ini akan secara tepat mempersiapkan otot untuk beraktivitas. Contohnya, jika kita mau lari maka fokus pada aktivitas yang melibatkan paru-paru. Sementara jika angkat beban, fokuslah pada lengan,” kata dia.

Sementara peregangan statis disarankan dilakukan setelah melakukan olahraga.

4. Olahraga setiap waktu

Peningkatan popularitas latihan interval intensitas tinggi (HIIT) dan budaya nge-gym di rumah seolah membentuk keyakinan bahwa olahraga keras setiap waktu akan memberikan lebih banyak manfaat.

“HIIT baik untuk dilakukan. Tapi jika terlalu banyak dilakukan tanpa diselingi istirahat maka berpotensi menimbulkan cedera dan kerusakan sendi,” kata Alex.

Sebagai alternatif, lakukanlah olahraga intensitas rendah dengan intens. Seperti jogging, berenang, bersepeda, atau yoga untuk meminimalisasi cedera. Di saat yang sama, manfaat berolahraga tetap didapatkan.

5. Tidak beristirahat dengan baik

Setelah sejam berada di gym dan berlari 5km, kita mungkin pulang ke rumah dan menganggap pekerjaan kita sudah selesai.

Tetapi, penting bagi kita untuk melakukan pemulihan secara maksimal dan tepat setiap kali selesai berlatih.

Pastikan untuk tidak melewatkan sesi peregangan setelah olahraga dan pertimbangan menggunakn terapi hangat atau dingin sebagai bagian dari pemulihan. Selain itu, pastikan otot dan sendi tetap luwes.

Bersama dengan peregangan usai olahraga, kita bisa mengkonsumsi suplemen dengan kandungan seperti kalsium dan vitamin D.

“Jika kamu secara tetap mengalami cedera, dukungan medis diperlukan agar cedera tersebut hilang,” papar Alex.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *